Orang-orang beriman semakin yakin akan kebenaran Al-Qur’an oleh karena sains dan tekhnologi mutaakhir mampu mengungkap dan menjelaskan peristiwa dan penomena yang yang termaktub dalam Al-Qur’an lebih kurang empat belas abad yang lalu. Namun disisi lain segolongan manusia justru terjerumus dalam kebodohannya yang dengan lantang menyuarakan keraguannya kepada Al-Qur’an atau setidaknya ingin mengoreksi kebenaran wahyu Ilahi tersebut.
Lebih jauh manusia modern juga dihadapkan
dengan istilah globalisasi yang dengan arus informasi dan komunikasinya membuat
dunia seperti daun kelor. Dampak positif negatifnya sudah barang tentu menjadi
konsekwensi logis manusia abad duapuluh satu.
Dalam kondisi seperti ini, maka tidak
dapat dibantah lagi, bahwa prisai yang dapat menolak serangan pengaruh
negatifnya hanyalah dengan kehidupan tasawuf. Kehidupa yang yang menjauhi
berbagai kesenangan dunia dan selalu mengadakan pendekatan diri kepada Allah
SWT.
Sementara ini kehidupan tashawuf oleh
banyak pihak dianggap identik dengan kehidupan yang serba kolot, primitif dan
ketinggalan zaman. Dimana kehidufan sufi dianggap tidak lagi relevan dengan
kemajuan zaman. Sufisme dianggap sebagai catatan sejarah yang sudah kehilangan
ssegnifikasinya untuk diterapkan dalam kehidupan modern. Asumsi semacam ini
timbul akibat kesalahan dalam mengenterpretasikan tashawuf yang diartikan
sebagai seseorang yang berpakaian compang camping, memakai baju lusuh.
Meskipun sebahagian ‘ulama ada yang
menafsirkan tashawuf dengan dari kata suf yang diartikan
pakaian kulit, tetapi jangan diartikan sesempit itu yang kemudian kaum
sufi dianggap identik dengan orang-orang yang berpakaian compang camping (al-Risalah
al-Qusyairiyah : 279). Interpretasi ini kurang atau kalau tidak dikatakan
tidak tepat sama sekali.
Imam al-Junaid al-Baghdadi, tokoh sufi yang menjadi referensi pemikiran ‘ulama
sufi sunni, ketika ditanyakan tentang definisi tashawuf beliau menjawab
dengan jawaban yang cukup variatif,”tashawuf adalah sebuah kekerasan yang
tidak mungkin ada damai”. Bahkan ‘ulama tashawuf sendiri
mendefenisikan dengan beragam retorika, yang lebih simple adalah ta’rif yang
ditawarkan ‘Ali al-Muzaiyin, tashawuf adalahmengikuti kebenaran
(al-Haq).
Beragam asumsi diatas jelas terpatahkan,
tashawuf tidak lebih merupakan kehidupan yang menjauhi berbagai kesenangan
dunia dengan segala aspeknya. Kehidupan yang hanya berorientasi pada kedekatan
diri pada Allah menjadi ritus-ritus sehari-harinya. Membasahi bibir dengan
bacaan tasbih dan istighfar, merenungi hadirnya beragam kejadian yang silih
berganti didunia, tafakkur fil Khalq menjadi kegiatan rutin
ditengah larut malam dan mengambil dunia hanya sekedarnya, tidak lebih dari
kebutuhan.
Kehidupan tashawuf juga bias bersenyawa
dengan perkembangan kekinian. Kaum sufi juga bias bermobil sedan, bercelana dan
berdasi, karena Agama tidak melarang manusia memiliki harta benda dan berdasi,
yang dilarang adalah senang (cinta) kepada dunia.
حُبُّ الدُّنْيَا رَئْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ
“cinta
kepada dunia merupakan sumber dari segala kerusakan” (HR. al-Baihaqi).
Penutup; (diriwayatkan) bahwa Nabi
Sulaiman as yang dikaruniakan kerajaan dan kekuasaan oleh Allah SWT, beliau
tidak pernah mengangkat penglihatannya (menengadah) kelangit karena takut dan
tawadhu’nya kepada Allah SWT. Beliau memberikan makan kepada orang-orang dengan
makanan yag lezat-lezat sementara beliau sendiri hanya makan roti yang terbuat
dari gandum. Ada yang bertanya kepada beliau.”apa yang membuatmu lapar, sedang
engkau memiliki perbendaharaan dibumi”, Nabi Sulaiman menjawab:”aku takut
kekenyangan dan melipakan orang-orang yang kelaparan”.
اللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابْ.....والسَّلَامْ



0 komentar:
Tuliskan komentar anda
Komentar yang bersifat rasis atau apapun bentuknya akan kami hapus...!