kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi
hanya saja tidak seorangpun tahu dimana dia akan melepas nafas terakhirnya.
وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ
غَدًا قلى وَمَا تَدْرِيْ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ قلى إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ (لقمان: ٣٤)
“Dan tiada seorangpun yang dapat
mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang
pun yang dapat mengetahui dibumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Luqman : 34)
demikian Allah SWT memberikan gambaran
bahwa mempersiapkan diri menghadapi kematian itu wajib, sebab tidak
ada seorangpun yang tau dimana dia akan mati. Selain itu maut juga merupakan
nasehat tersendiri sebagai mana yang diwasiatkan Rosululloh SAW menjelang detik kewafatannya, bahwa nasehat itu
terdiri dari dua macam yaitu nasehat yang bias bicara (Al-Qur’an) dan nasehat
yang diam saja (maut). Bahkan ‘Umar bin Khottab memiliki cincin yang mana
pada permukaan cincin beliau tersebut bertuliskan:
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا يَاعُمَرُ
Cukuplah kematian menjadi nasehat (bagimu)
wahai ‘Umar
Ketika الموت (kematian)
selesai diciptakan oleh Allah SWT. Para malaikat berkata:” wahai Tuhan kami,
Engkaukah yang menciptakan Makhluq sebesar ini?”, Allah SWT menjawab:”AKUlah
yang telah menciptakannya dan AKU lebih besar(Agung) dari pada dia, semua
makhluq akan merasakannya”. Kemudian Allah berkata kepada Malaikat
‘Izroil:”Wahai ‘Izroil, ambil dia (maut) engkau engkau kuberi kuasa atasnya”.
‘Izroilpun berkata:”Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku kuat mengambilnya sedang
dia lebih besar dariku”. Maka Allah SWT memberikan kekuatan kepada
‘Izroil, ‘Izroil pun kemudian mengambilnya maka jadila maut itu berada dalam
gengaman ‘Izroil.
الموت berkata:”Ya
Robb,izinkan aku menyeru dilangit satu kali”, maka Allah SWT mengizinkan.
Dengan suara yang tinggi الموت berseru :”akulah
maut, yang memisahkan antara tiap-tiap yang dicintai. Akulah الموت, yang memisahkan
antara suami dan istri. Akulah الموت yang memisahkan
antara anak dan ibunya, Akula الموت, yang
memisahkan antara saudara dan saudarinya. Akulah
kematian yang merobohkan rumah dan istana-istana. Akulah kematian, yang
meramaikan kubur-kubur. Akulah kematian yang akan menarimu kalian dan akan pula
menemukan kalian, walau kalian berada dalam bangunan yang sangat kokoh. Tidak
ada makhluk yang kekal kecuali akan merasakanku”.
Sesungguhnya orang-orang kafir, munafik
dan orang-orang celaka jika kematian datang kepada mereka, sebelah
kirinya Malaikat ‘Azab wajahnya hitam dengan mata yang biru bersama mereka
pakaian dari ‘azab. Mereka duduk agak jauh dari orang yang akan meninggal
tersebut sampai malaikat maut datang, ketika Malaikat Maut datang salah satu
dari mereka (Malaikat ‘Azab) berdiri dihadapan orang tersebut dengan wajah yang
sangat menakutkan. Nafs orang tersebut bertanya: “siapa kamu ?, apa maksud
kedatanganmu ?”, Malaikat Maut menjawab:”Aku Malaikat Maut yang akan
mengeluarkanmu dari dunia, manjadikan anak-anakmu yatim, istrimu menjanda,
hartamu akan diwarisi ahli warismu yang kamu tidak menyukai mereka ketika
hidupmu, dan sesungguhnya kamu mendahului dirimu dengan kebaikan tidak pula
untuk akhiratmu. Hari ini, aku datang untuk mencabut ruhmu”.
Mendengar itu semua orang itu memalingkan
wajahnya namun ia palingkan kemanapun wajahnya ia akan tetap melihat Malaikat
Maut berdir. Malaikat maut berkata:”Apakah engkau tidak mengenalku ? Aku
Malaikat Maut yang telah mencabut ruh ibu bapakmu dan engkau melihatnya tanpa
bisa menolong mereka berdua. Hari ini, aku akan mengembil ruhmu sampai
anak-anakmu, kerabatmu, teman-temanmu melihat keadaanmu, mereka mengambil
pelajaran darimu hari ini. Aku Malaikat Maut yang melenyapkan waktu yang telah
lalu, melenyapkan orang-orang yang lebih banyak kekuasaannya daripada
kekuasaanmu, lebih banyak hartanya dari pada harta milikmu kamu, lebih banyak
anaknya daripada anak-anakmu ”.
Kemudian Malaikat Maut berkata
lagi:”bagaimana pandanganmu terhadap dunia ?”, orang itu menjawab:”dunia
teramat menipu dan menkhianati”. Kemudian Allah SWT menampakkan dunia dalam
bentuk rupa kemudian dunia itu berkata:”wahai orang yang bermakshiat kepada
Allah, tidakkah kamu malu. Kamu telah berbuat doa didunia tidak kamu bending
nafsumu berbuat makshiat, kamu mencariku padahal aku tidak mencarimu, kamu
tidak lagi bias membedakan yang halal dan yang haram kamu mengira tidak akan
berpisah dengan dunia padahal sesungguhnya aku berlepas diri darimu dan segala
perbuatanmu,”.
Orang itupun melihat hartanya jatuh
menjadi milik orang lain, hartanya itupun berkata:”wahai orang yang bermakshiat
kepada Allah, kemu usahakan aku dengan cara yang tida haq, kamu tidak berusaha
berpaling dariku, kemupun tidak menyedekahkan aku kepada fakir miskin, hari ini
aku menjadi milik orang lain”.
Demikianlah jika orang beriman, maka
ruhnya diambil sedang dia bahagia. Sementara jika orang kafir atau munafik
ruhnya diambil sedang dia dalam kecelakaan
Allohu A’lam Bishshowab



0 komentar:
Tuliskan komentar anda
Komentar yang bersifat rasis atau apapun bentuknya akan kami hapus...!